Minggu, 25 April 2010

penjual es lilin

oase kehidupan...


ditengah hiruk pikuknya kehidupan sehari-hari di kotaku, aku memperhatikan sekelumit langkah pasti walo kadang tampak ragu.

sosok perkasa dengan otot yang kekar ketika masih muda dulu, kini menjelang usia senja beliau adalah sesosok penjual es yang tiap hari lewat di depan tempat kerjaku.

ketika kulit tubuh mulai mengering, otot kekar mulai mengendor, dan warna kulit yang semakin gelap seiring dengan usia beliau yang semakin sore. namun aku salut dan terharu bila memperhatikan beliau. pergi pagi pulang sore kadang hari telah gelap memikul 2 termos es yang telah usang sesuai dengan warna kulit bapak penjual es yang menghitam.

Dalam benakku kadang bertanya pada diriku sendiri, apa mungkin di jaman sekarang ini masih ada yang membeli es lilin yang terkenal waktu jaman tahun 80-an?. tek kenal lelah dan tak kenal gengsi bapak penjual es ini tiap hari keliling kampung dan gang di pelosok kota demi sebuah kata tanggungjawab. Dengan langkah gontai menahan beban 2 termos es dipikul menyusuri jalan, dengan baju kusut di padu dengan celana hitam dibalut sarung, topi laken sebagai penutup kepala dari teriknya sinar matahari dan sandal jepit yang srampat atau penjepitnya yang sudah diganti dengan tali rafiah.

Bapak penjual es lilin berjalan tidak hanya menahan beban 2 termos yang menggelantung dipikulan beliau, namun yang lebih berat adalah agar tetap hidup dan menghidupi keluarga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar